3 November 2016

Eksistensi Keberadaan Tuhan



Problematika Eksistensi Tuhan
Di era globalisasi ini yang kerap membentuk pemikiran setiap manusia untuk meyakini sesuatu berdasarkan rasional, hingga memunculkan berbagai macam permasalahan seperti tenteng eksistensi (keberadaan) Tuhan. Banyak dari para pakar filsafat mengemukakan pendapat yang saling bertentangan satu sama lain memunculkan pertanyaan-pertanyaan umat beragama. Akibatnya manusia yang bingung dengan sebuah argument yang ambigu membuat mereka harus meyakini apa yang terbentuk dipikirannya. Memunculkan agama-agama yang sesuai dengan rasional individu sebagai pelampiasan problem pemikiran.
Dalam pemikiran Barat, “Tuhan itu tidak ada” mereka memaksakan pemahaman Tuhan dengan rasionalitas mereka. Sesuatu itu ada dengan sendirinya tanpa harus ada yang menciptakan, jika pengetahuan indra tidak bisa menangkap pengetahuan tentang eksistensi Tuhan maka objek pengetahuan tersebut tidak ada. Manusia dikatakan ada karna bisa dilihat, didengar, diraba dan ditangkap oleh panca indra, sedangkan segala sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh panca indra dianggap tidak ada. Begitulah pendapat mereka tentang eksistensi Tuhan.
Ternyata dalam Islam hal ini sangat berbeda dan bertentangan dengan pemikiran Barat. Logikanya segala sesuatu yang ada pasti ada penciptanya. Sebagai contoh empiris tentang eksistensi Tuhan, sebuah arloji ditemukan para sejarawan di era globalisasi, sebuah arloji tidak mungkin secara langsung ada melainkan ada pembuatnya, sebuah arloji yang sebegitu rumitnya pun ada yang membuat lantas bagaimana dengan alama semesta, bumi yang setiap harinya berputar mengelilingi matahari sesuai dengan porosnya, tubuh manusia yang terdiri dari berbagai macam organ dan sel-sel, suhu atau cuaca yang berubah-ubah dalam sebuah wilayah, semua ini tidak ada terbentuk dengan sendirinya melainkan ada pembuatnya, lantas siapa? Jawabannya ada dalam sumber pengetahuan Islam. Allah telah mengatakan dalam Al-Qur’an 1400 abad yang lalu tentang penciptaan alam semesta.  Itulah tanda eksistensi Tuhan yang mutlak diyakini. Wallahu a’lamu bi as Showab.