Problematika Eksistensi Tuhan
Di era globalisasi ini yang kerap membentuk pemikiran setiap
manusia untuk meyakini sesuatu berdasarkan rasional, hingga memunculkan
berbagai macam permasalahan seperti tenteng eksistensi (keberadaan) Tuhan.
Banyak dari para pakar filsafat mengemukakan pendapat yang saling bertentangan
satu sama lain memunculkan pertanyaan-pertanyaan umat beragama. Akibatnya
manusia yang bingung dengan sebuah argument yang ambigu membuat mereka harus
meyakini apa yang terbentuk dipikirannya. Memunculkan agama-agama yang sesuai
dengan rasional individu sebagai pelampiasan problem pemikiran.
Dalam pemikiran Barat, “Tuhan itu tidak ada” mereka memaksakan
pemahaman Tuhan dengan rasionalitas mereka. Sesuatu itu ada dengan sendirinya
tanpa harus ada yang menciptakan, jika pengetahuan indra tidak bisa menangkap
pengetahuan tentang eksistensi Tuhan maka objek pengetahuan tersebut tidak ada.
Manusia dikatakan ada karna bisa dilihat, didengar, diraba dan ditangkap oleh
panca indra, sedangkan segala sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh panca
indra dianggap tidak ada. Begitulah pendapat mereka tentang eksistensi Tuhan.
Ternyata dalam Islam hal ini sangat berbeda dan bertentangan dengan
pemikiran Barat. Logikanya segala sesuatu yang ada pasti ada penciptanya.
Sebagai contoh empiris tentang eksistensi Tuhan, sebuah arloji ditemukan para
sejarawan di era globalisasi, sebuah arloji tidak mungkin secara langsung ada
melainkan ada pembuatnya, sebuah arloji yang sebegitu rumitnya pun ada yang
membuat lantas bagaimana dengan alama semesta, bumi yang setiap harinya
berputar mengelilingi matahari sesuai dengan porosnya, tubuh manusia yang
terdiri dari berbagai macam organ dan sel-sel, suhu atau cuaca yang
berubah-ubah dalam sebuah wilayah, semua ini tidak ada terbentuk dengan
sendirinya melainkan ada pembuatnya, lantas siapa? Jawabannya ada dalam sumber pengetahuan
Islam. Allah telah mengatakan dalam Al-Qur’an 1400 abad yang lalu tentang
penciptaan alam semesta. Itulah tanda
eksistensi Tuhan yang mutlak diyakini. Wallahu a’lamu bi as Showab.